ASPEK-ASPEK PENERIMAAN DIRI

ASPEK-ASPEK PENERIMAAN DIRI

Penerimaan diri memiliki beberapa aspek, berikut aspek-aspek penerimaan diri menurut beberapa tokoh yaitu :

Menurut Sheerer (dalam Sutadipura, 1984) menyebutkan aspek-aspek penerimaan diri, yaitu :

a. Kepercayaan atas kemampuannya untuk dapat menghadapi hidupnya.
b. Menganggap dirinya sederajat dengan orang lain.
c. Tidak menganggap dirinya sebagai orang hebat atau abnormal dan tidak mengharapkan
bahwa orang lain mengucilkannya.
d. Tidak malu-malu kucing atau serba takut dicela orang lain.
e. Mempertanggung jawabkan perbuatannya.
f. Mengikuti standar pola hidupnya dan tidak ikut-ikutan.
g. Menerima pujian atau celaan secara objektif.
h. Tidak menganiyaya diri sendiri

Selain itu menurut Jersild (1958) yang juga mengemukakan beberapa aspek-aspek

penerimaan diri yaitu sebagai berikut :
a. Persepsi mengenai diri dan sikap terhadap penampilan.
Individu yang memiliki penerimaan diri berpikir lebih realistik tentang penampilan dan
bagaimna ia terlihat dalam pandangan orang lain. Ini bukan berarti individu tersebut
mempunyai gambaran sempurna tentang dirinya, melainkan individu tersebut dapat
melakukan sesuatu dan berbicara dengan baik mengenai dirinya yang sebenarnya.

b. Sikap terhadap kelemahan dan kekutan diri sendiri dan orang lain.
Individu yang memiliki penerimaan diri memandang kelemahan dan kekuatan dalam
dirinya memiliki penerimaan diri memandang kelemahan dan kekuatan dalam dirinya
lebih baik daripada individu yang tidak memiliki penerimaan diri. Individu tersebut
kurang menyukai jika harus menyia-nyiakan energinya untuk menjadi hal yang tidak
mungkin, atau berusaha menyembunyikan kelemahan dari dirinya sendiri maupun orang
lain. Ia pun tidak berdiam diri dengan tidak memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya.
Sebaliknya, ia akan menggunakan bakat yang dimilikinya dengan lebih leluasa. Individu
yang bersikap baik pula dalam menilai kelemahan dan kekuatan dirinya akan bersikap
baik pula dalam menilai kelemahan dan kekuatan orang lain.

c. Perasaan infeoritas sebagai gejala penolakan diri.
Seseorang individu yang terkadang merasakan infeoritas atau disebut dengan infeority
complex adalah seseorang individu yang tidak memiliki sikap penerimaan diri dan hal
tersebut akan menunggu penilaian yang realistik atas dirinya.

d. Respon atas penolakan dan kritikan
individu yang memiliki penerimaan diri tidak menyukai kritikan, namun demikian ia
mempunyai kemampuan untuk menerima kritikan bahkan dapat mengambil hikmah dari
kritikan tersebut. Ia berusaha untuk melakukan koreksi atas dirinya sendiri, ini
merupakan hal yang penting dalam perkembangannya menjadi seorang individu dewasa
dan dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan individu yang tidak
memiliki penerimaan diri justru menganggap kritikan sebagai wujud penolakan
terhadapnya. Yang penting dalam penerimaan diri yang baik adalah mampu belajar dari
pengalaman dan meninjau kembali sikapnya yang terdahulu untuk memperbaiki diri.
e. Keseimbangan antara “real self” dan “ideal self”
individu yang memiliki penerimaan diri adalah ia mempertahankan harapan dan tuntutan

dari dalam dirinya dengan baik dalam batas-batas kemungkinan individu ini mungkin
memiliki ambisi yang besar, namun tidak mungkin untuk mencapainya walaupun dalam
jangka waktu yang lama dan menghabiskan energinya. Oleh karena itu, untuk
memastikan ia tidak akan kecewa saat nantinya.

f. Penerimaan diri dan penerimaan orang lain
hal ini berarti apabila seorang individu menyanyangi dirinya, maka akan lebih
memungkinan baginya untuk menyayangi orang lain, dan apabila seorang individu
merasa benci pada dirinya, maka akan lebih memungkinkan untuk merasa benci pada
orang lain. Terciptanya hubungan timbal balik antara penerimaan diri dan penerimaan
orang lain adalah individu yang memiliki penerimaan diri merasa percaya diri dalam
memasuki lingkungan sosial.

g. Penerimaan diri, menuruti kehendak, dan menonjolkan diri.
Menerima diri dan menuruti diri merupakan dua hal yang berbeda. Apabila seorang
individu menerima dirinya, hal tersebut bukan berarti ia memanjakan dirinya. Akan
tetapi, ia akan menerima bahkan menuntut kelayakan dalam kehidupannya dan tidak akan
mengambil yang bukan haknya dalam mendapatkan posisi yang menjadi incaran dalam
kelompoknya. Ia tidak akan membiarkan orang lain selangkah lebih maju darinya dan
menggagu langkahnya. Individu dengan penerimaan diri menghargai harapan orang lain
dan meresponnya dengan bijak. Namun, ia memiliki pendirian yang terbaik dalam
berfikir, merasakan dan membuat pilihan. Ia tidak hanya akan menjadi pengikut apa yang
dikatakan orang lain.

h. Penerimaan diri, spontanitas, menikmati hidup
individu dengan penerimaan diri mempunyai lebih banyak keleluasaan untuk menikmati
hal-hal dalam hidupnya. Namun, terkadang ia kurang termotivasi untuk melakukan
sesuatu yang rumit. Individu tersebut tidak hanya leluasa menikmati sesuatu yang
dilakukannya. Akan tetapi, juga leluasa untuk menolak atau menghindari sesuatu yang
tidak ingin dilakukannya.

i. Aspek moral penerimaan diri
Individu dengan peerimaan diri bukanlah individu yang berbudi baik dan bukan pula
fleksibelitas dalam pengaturan hidupnya. Ia memiliki kejujuran untuk menerima dirinya
sebagai apa dan untuk apa ia nantinya, dan ia tidak menyukai kepura-puraan. Individu ini
dapat secara terbuka mengakui dirinya sebagai individu yang pada suatu waktu dalam
masalah, merasa cemas, ragu, dan bimbang tanpa harus manipu diri dan orang lain.
j. Sikap terhadap penerimaan diri
menerima diri merupakan hal peting dalam kehidupan seseorang. Individu yang dapat
menerima beberapa aspek hidupnya, mungkin dalam keraguan dan kesulitan dalam
menghormati orang lain. Hal tersebut merupakan arahan agar dapat menerima dirinya
individu dengan penerimaan diri membangun kekuatannya untuk menghadapi kelemahan
dan keterbatasaannya. Banyak hal dalam perkembangan seorang individu yang belum
sempurna, bagi seseorang individu akan lebih baik jika ia dapat menggunakan
kemampuannya dalam perkembangan hidupnya.

Menurut Jersild (dalam Hurlock, 1974) mengatakan bahwa individu yang menerimadirinya sendiri adalah yakin akan standar-standar dan pengakuan terhadap dirinya tanpa

terpaku pada pendapat orang lain dan memiliki perhitungan akan keterbtasan dirinya
serta tidak melihat dirinya sendiri secara irasional. Individu yang menerima dirinya
menyadari asset diri yang dimilikinya, dan merasa bebas untuk menarik atau melakukan

keinginannya, serta menyadari kekurangannya tanpa menyalahkan diri sendiri.
Sementara menurut Maslow (dalam Schultz, 1991) mengatakan bahwa individu yang
memiliki kemampuan menerima diri sendiri dan orang lain. Ia mampu mengekspresikan
dirinya sendiri terhadap kualitas-kualitas yang lebih baik, yang merupakan sarana untuk
membangun kepribadian penerimaan diri dan orang lain terhadap diri.

 

Tentang Tri suryo ari wicaksono

standar
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s